PENGARUH GAYA KEPEMIMPINAN
TERHADAP MOTIVASI KERJA DAN KINERJA PT. PLN Persero
ABSTRAK
Setiap karyawan membutuhkan
gaya kepemimpinan seorang pemimpin yang dapat menumbuhkan motivasi kerja,
karena dengan motivasi kerja yang tinggi, maka kinerja para karyawan menjadi
lebih terarah dan tujuan perusahaan dapat lebih cepat tercapai. Subjek
dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan PT.
PLN (Persero). Sampel dalam penelitian ini
diambil sebanyak 44 orang dengan menggunakan
teknik Proportional Random Sampling.
Alat analisis yang digunakan adalah analisis jalur (path analysis). Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa secara parsial
Gaya Kepemimpinan Orientasi Tugas berpengaruh signifikan
terhadap Motivasi Kerja sebesar 20% dan
terhadap Kinerja Karyawan sebesar 38%.
Kemudian, Gaya Kepemimpinan Orientasi
Karyawan berpengaruh signifikan
terhadap Motivasi Kerja sebesar 55,1%
dan terhadap Kinerja Karyawan sebesar 65,8%.
Selain itu, secara simultan Gaya
Kepemimpinan Orientasi Tugas dan Gaya Kepemimpinan Orientasi Karyawan
berpengaruh signifikan terhadap Motivasi Kerja sebesar 39,8% dan
terhadap Kinerja Karyawan sebesar 32,7%.
Lebih lanjut, Motivasi Kerja berpengaruh
signifikan terhadap Kinerja Karyawan sebesar 64,5%. Oleh
karena itu, PT. PLN (Persero) disarankan untuk lebih
meningkatkan Gaya Kepemimpinan Orientasi Tugas dikarenakan secara
keseluruhan rata-rata item variabel tersebut masih memiliki pengaruh
yang rendah.
Kata
Kunci : Gaya Kepemimpinan, Motivasi Kerja, dan Kinerja.
1.
PENDAHULUAN
Pencapaian tujuan organisasi merupakan fokus
utama dibentuknya organisasi. Suatu
organisasi akan berhasil dalam mencapai tujuan bila orang yang bekerja dalam
organisasi itu dapat melakukan tugasnya yang baik sesuai dengan bidang dan
tanggung jawabnya masing-masing. Oleh karena itu, diperlukan seorang pemimpin yang
dapat memberikan pengaruh dan mengarahkan segala sumber daya yang ada ke arah
pencapaian tujuan organisasi.
Dalam kenyataannya, seorang pemimpin dapat mempengaruhi motivasi
kerja
dan kinerja karyawan. Oleh
karena itu, peranan gaya kepemimpinan seorang pemimpin sangatlah diperlukan agar tercipta situasi
kerja yang harmonis antara pimpinan dan karyawan. Mengingat karyawan merupakan
salah satu unsur pelaksana berbagai macam pekerjaan dan tugas organisasi
yang tentunya memerlukan motivasi yang terus-menerus untuk meningkatkan kinerjanya.
Untuk mencapai hal
tersebut, seorang pemimpin dapat
memotivasi para karyawan
antara lain dengan memberikan kesempatan
karyawan
untuk ikut berpartisipasi dalam pembuatan keputusan,
menciptakan suasana harmonis, serta hubungan kerja yang saling mempercayai
dan menghormati. Gaya pemimpin yang berbeda-beda pasti akan mewarnai perilaku dan tipe
kepemimpinannya, sehingga dapat memunculkan gaya kepemimpinan yang berorientasi tugas
dan gaya kepemimpinan yang berorientasi karyawan.
Berdasarkan penjelasan
tersebut, dapat diindikasikan bahwa dengan penerapan gaya kepemimpinan oleh seorang
pemimpin organisasi maka akan mempengaruhi motivasi kerja para karyawan yang lebih
lanjut akan meningkatkan kinerja karyawan untuk memberikan hasil yang lebih
baik. Untuk membuktikan dugaan tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian
dengan judul “Pengaruh Gaya Kepemimpinan terhadap Motivasi Kerja dan
Kinerja” (Studi pada Karyawan PT. PLN Persero).
2.
KAJIAN PUSTAKA
2.1
Gaya
Kepemimpinan
Definisi gaya
kepemimpinan atau leadership style
menurut Thoha (2003:49) adalah “norma perilaku yang digunakan seseorang pada
saat mencoba
mempengaruhi perilaku orang
lain seperti yang ia lihat”. Sedangkan menurut G.R. Terry, (Ichsan, 1994:100) “kepemimpinan adalah
seluruh aktivitas atau tindakan untuk bisa mempengaruhi serta menggiatkan orang
lain dalam usaha bersama untuk mencapai tujuan”.
Lebih lanjut, menurut
Cartwirght dan Zander (Bass, 1990) terdapat dua gaya kepemimpinan, yaitu:
a.
Gaya kepemimpinan dengan orientasi tugas (task
oriented) dimana pemimpin
mengarahkan dan mengawasi bawahan secara tertutup untuk menjamin bahwa tugas
dilakukan sesuai dengan yang diinginkan. Dalam hal ini, pemimpin lebih memperhatikan dalam hal pelaksanaan
pekerjaan dari pada pengembangan dan pertumbuhan para karyawan.
b. Gaya dengan orientasi karyawan (employee oriented) dimana pemimpin mencoba untuk lebih memotivasi bawahan
dibanding mengawasi mereka. Pemimpin mendorong bawahan dengan memberikan kesempatan kepada para
bawahan untuk ikut berprestasi dalam hal pembuatan keputusan, menciptakan suasana persahabatan, hubungan saling mempercayai dan menghormati
dengan para anggota kelompok.
2.2 Motivasi Kerja
Robert L. Mathis dan John H.
Jackson (2001:78), mengemukakan bahwa
“motivasi merupakan hasrat di dalam diri seseorang yang dapat menyebabkannya melakukan suatu tindakan”. Sedangkan
menurut pendapat Hasibuan
(2005:143) “motivasi adalah pamberian daya penggerak yang dapat menciptakan kegairahan kerja seseorang agar
mau bekerja sama, bekerja efektif dan terintegrasi dengan segala daya upaya untuk mencapai kepuasan”.
Lebih
lanjut, Manullang (2006:192) memberikan
pengertian mengenai motivasi bahwa
“motivasi merupakan pekerjaan yang dilakukan oleh seorang manajer dengan memberikan inspirasi, semangat dan dorongan
kepada orang lain, dalam hal ini karyawan untuk mengambil tindakan-tindakan”.
2.3
Teori Motivasi
Kerja
Abraham Maslow telah mengembangkan suatu konsep teori motivasi
yang dikenal dengan nama Hirarkhi
Kebutuhan (Hirarkhi Of Needs). Dalam konsep
tersebut Abraham Maslow (Hariandja, 2002:324) menjelaskan
bahwa manusia adalah sejenis
makhluk yang serba kekurangan dimana segala kebutuhannya dapat disusun berdasarkan keutamaan.
Kebutuhan
tersebut terdiri dari lima jenis hirarkis dalam arti manusia pada dasarnya pertama-tama akan berusaha memenuhi kebutuhan tingkat
pertama, kemudian kebutuhan tingkat kedua dan seterusnya. Pemenuhan kebutuhan inilah yang menimbulkan
motivasi seseorang. Suatu kebutuhan yang sudah terpenuhi tidak menjadi unsur
pemotivasi lagi. Hirarkhi kebutuhan
menurut Maslow (Manullang, 2006:173) sebagai berikut:
a.
Physiological Needs (Kebutuhan Fisiologis) yaitu kebutuhan utama untuk kelangsungan hidup seperti makan, minum, udara, rumah dan lain-lainnya.
b. Safety
And Security Needs (Keamanan
dan Keselamatan) yaitu kebutuhan akan
keamanan dari ancaman, yakni merasa aman dari ancaman dan keselamatan dalam melakukan aktifitas.
c. Social
Needs (Kebutuhan Sosial) adalah kebutuhan yang meliputi kebutuhan merasa diterima orang lain, kebutuhan merasa dihormati, kebutuhan berprestasi dan perasaan diikut sertakan.
d. Esteem
Needs (Kebutuhan Penghargaan)
adalah kebutuhan akan
penghargaan berupa harga diri dan pandangan baik dari orang lain.
e.
Self Actualization Needs (Kebutuhan Aktualisasi Diri) merupakan kebutuhan untuk melakukan aktualisasi dengan menggunakan kemampuan, keterampilan dan potensi optimal seseorang untuk mencapai prestasi kerja yang sangat
memuaskan yang sulit dicapai orang lain.
2.4
Kinerja
Basri
(2004:16) merumuskan pengertian performance
atau kinerja adalah “sebagai hasil kerja yang dicapai oleh seseorang atau
kelompok orang didalam suatu perusahaan sesuai dengan wewenang dan tanggung
jawab masing-masing dalam upaya pencapaian tujuan perusahaan secara legal,
tidak melanggar hukum yang berlaku dan tidak bertentangan dengan moral atau etika”.
Sedangkan menurut Sulistyani dan Rosidah (2003:223),
“kinerja seseorang merupakan kombinasi dari kemampuan, usaha dan kesempatan
yang dapat dinilai dari hasil kerjanya”.
Lebih lanjut, Dharma (1991:54) mengemukakan bahwa hampir
seluruh cara
pengukuran kinerja mempertimbangkan hal-hal:
a. Kuantitas, yaitu melibatkan perhitungan
keluaran dari proses atau pelaksanaan kegiatan. Hal ini berkaitan dengan jumlah
keluaran yang dihasilkan.
b. Kualitas, yaitu mencerminkan tingkat
kepuasan, seberapa baik penyelesaiannya. Hal ini berkaitan dengan bentuk
keluaran yang dihasilkan.
c. Ketepatan waktu, yaitu kesesuaian antara waktu yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu
pekerjaan.
Oleh karena itu, dalam penelitian ini, variabel kinerja karyawan diukur berdasarkan 3 (tiga) indikator, yaitu fokus pada hasil kinerja, kualitas kinerja, serta ketepatan waktu dalam melakukan pekerjaan.
2.5 Faktor yang Mempengaruhi
Kinerja
Menurut pendapat Mangkunegara (2005:67) disebutkan bahwa
faktor-faktor yang dapat mempengaruhi
pencapaian kinerja ada dua, yaitu:
a.
Faktor Kemampuan
(Ability)
Secara psikologis, kemampuan pegawai
terdiri dari
kemampuan potensi (IQ) dan
kemampuan realitas (knowledge + skill).
b.
Faktor Motivasi
(Motivation)
Motivasi
terbentuk dari sikap (attitude)
seorang karyawan dalam menghadapi situasi
kerja. Motivasi merupakan kondisi mengerakkan diri karyawan yang
terarah untuk mencapai tujuan organisasi.
Sedangkan,
menurut Timpe (2005:33) faktor - faktor yang mempengaruhi kinerja, yaitu:
a. Internal (pribadi):
1)
Kemampuan
tinggi.
2)
Kerja
keras
b. Eksternal (lingkungan):
1)
Pekerjaan
mudah.
2)
Nasib
baik.
3)
Bantuan
rekan – rekan.
4)
Pemimpin
yang baik.
Dari
dua pendapat diatas, dapat
disimpulkan bahwa pada dasarnya kinerja ditentukan juga oleh faktor motivasi
dan pemimpin yang baik. Oleh karena itu kegagalan ataupun keberhasilan suatu
kinerja karyawan tergantung kepada bagaimana gaya kepemimpinan seorang pemimpin
dalam melakukan motivasi kepada karyawan.
3.
MODEL KONSEPSI DAN HIPOTESIS
3.1 Model Konsepsi
Berdasarkan pengkajian secara
sistematis mengenai pengaruh gaya kepemimpinan dan motivasi kerja
terhadap kinerja karyawan, serta mengacu pada penelitian terdahulu maka model konseptual
dalam penelitian ini ditampilkan pada Gambar 1 berikut:

Gambar 1. Model Konsepsi
3.2 Model Hipotesis
Agar variabel penelitian dapat diamati
dan dijelaskan, maka perlu dijabarkan ke dalam bentuk hipotesis. Gambaran mengenai
hubungan antar variabel adalah seperti terlihat pada Gambar 2 berikut:
![]() |
Gambar 2. Model Hipotesis
Sesuai
dengan Gambar 2, maka hipotesis penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.
Diduga
ada pengaruh Gaya Kepemimpinan Orientasi Tugas dan Gaya Kepemimpinan Orientasi
Karyawan secara simultan dan parsial
terhadap Motivasi Kerja Karyawan pada PT. PLN Persero.
b.
Diduga
ada pengaruh Gaya Kepemimpinan Orientasi Tugas dan Gaya Kepemimpinan Orientasi
Karyawan secara simultan dan parsial
terhadap Kinerja Karyawan pada PT. PLN Persero.
c.
Diduga
ada pengaruh Motivasi Kerja Karyawan terhadap Kinerja Karyawan pada PT. PLN Persero.
d.
Diduga
ada pengaruh Gaya Kepemimpinan Orientasi Tugas dan Gaya Kepemimpinan Orientasi
Karyawan secara simultan dan parsial
terhadap Motivasi Kerja Karyawan dan Kinerja Karyawan pada PT. PLN
Persero.
4.
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan
penelitian penjelasan (explanatory research) yang merupakan penelitian yang menjelaskan hubungan kausal antara
variabel-variabel melalui pengujian hipotesis (Singarimbun dan Efendi, 1995:5)
4.2
Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilaksanakan di PT. PLN Persero yang beralamat di Jl. Basuki Rahmat No.100, Malang Kota. Lokasi ini dipilih berdasarkan
pertimbangan bahwa perusahaan tersebut memiliki peluang terjadinya masalah Gaya
Kepemimpinan dan pengaruhnya terhadap Motivasi Kerja dan Kinerja.
4.3 Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah
karyawan PT. PLN
(Persero) yang berjumlah 77 orang, sedangkan sampelnya diambil
sebanyak 44 orang dengan
teknik Proportional Random Sampling
4.4
Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat (dependent variable) adalah Motivasi Kerja Karyawan (X3) dan Kinerja Karyawan (X4). Sedangkan variabel
bebas (independent variable) adalah Gaya Kepemimpinan Orientasi Tugas (X1) dan Gaya Kepemimpinan
Orientasi Karyawan (X2).
4.5
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
a.
Kuesioner, yaitu pengumpulan
data dengan mengajukan pernyataan secara tertulis kepada responden berkenaan
dengan informasi yang diperlukan.
b.
Wawancara, yaitu pengumpulan
data dengan mengajukan pertanyaan secara lisan.
c.
Dokumentasi, yaitu dengan mencatat dokumen yang
dimiliki oleh perusahaan yang tidak bersifat rahasia dan berhubungan dengan penelitian.
4.6
Teknik Analisis Data
Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini
adalah analisis jalur (path analysis), dimana analisis ini bertujuan untuk memeriksa
apakah untuk mencari sasaran
akhir harus melewati variabel penghubung atau bisa langsung ke sasaran akhir. Keputusan uji terhadap koefisien analisis path dilakukan dengan menghitung koefisien-koefisien jalur P31 dari X1 ke X3,
P32 dari X2 ke X3, P41 dari X1
ke X4, P42 dari X2 ke X4, dan P43
dari X3 ke X4 dengan
menggunakan signifikansi t dengan tingkat kepercayaan 95%
atau α= 0.05. Apabila Sign. t > α maka H0 diterima dan Ha
ditolak. Sedangkan apabila Sign. t ≤ α maka H0 ditolak dan Ha
diterima.
5.
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Gambaran Umum Perusahaan
PT. PLN (Persero) memperoleh status
badan hukum pada tanggal 16 juni 1994 dengan No. Akte Notaris Soecipto, SH 169/
1994. Ditetapkan berdasarkan dari Keputusan Direksi PT. PLN (Persero) dengan No. 26/010/2001
tanggal 20 Februari 2001 tentang organisasi PT. PLN (Persero) serta diumumkan pada
tanggal 1 April 2001. Bagian tugas PT. PLN (Persero) diantaranya
adalah merencanakan, melaksanakan, dan melakukan evaluasi serta membuat laporan
atas pencapaian pendapatan, penjualan tenaga listrik, pelayanan pelanggan,
pengoperasian dan pemeliharaan jaringan distribusi didaerah
kerjanya secara efisien dengan mutu dan keandalan yang baik untuk mencapai
kinerja Unit.
Sistem gaji di PT. PLN (Persero) adalah sistem
gaji bulanan yaitu gaji diberikan pada karyawan setiap sebulan sekali pada tiap
minggu pertama. Gaji karyawan disesuaikan dengan golongan karyawan, peringkat
dan tingkat absensi, gaji yang diberikan meliputi gaji pokok dan tunjangan kompensasi.
5.2 Deskripsi Responden
Dari hasil penyeberan kusioner diperoleh gambaran
responden menurut usia karyawan PT. PLN (Persero), dapat diketahui dari 44 responden terdapat 10 responden berusia kurang dari 30 tahun atau 22,7%, 27 responden berusia antara 30 sampai 50 tahun atau 61,4%, 7 responden berusia diatas 50 tahun atau 15,9%. Jadi
dapat disimpulkan bahwa sebagian besar karyawan tetap PT. PLN (Persero) adalah
berusia 30 sampai 50 tahun.
Deskripsi responden berdasarkan tingkat pendidikan menunjukkan jumlah responden yang berpendidikan
terakhir SMU adalah sebanyak 15 orang atau 34,1%, yang
berpendidikan terakhir D3 adalah sebanyak 5 orang atau 11,4%, sedangkan yang berpendidikan terakhir
S1 adalah 24 orang atau 54,5%, sedangkan tingkat pendidikan terakhir
lainnya SMP, D1 dan D2 adalah 0. Dari uraian diatas sebagian besar karyawan
tetap PT. PLN (Persero) berpendidikan terakhir S1.
Deskripsi responden berdasarkan masa kerja yang di maksud disini adalah masa kerja
ketika menjadi karyawan tetap
PT. PLN (Persero). Berdasarkan hasil
penyebaran kuesioner diketahui bahwa jumlah responden yang mempunyai masa kerja
antara 1-2 tahun adalah 3 orang atau 6,8%, masa kerja antara 3-5 tahun adalah sebanyak 9 orang atau 20,5%,
sedangkan masa kerja antara 6-10 tahun sebanyak 19 orang atau 43,2%, masa kerja
antara 11-15 tahun sebanyak 7 orang atau 14,3%, masa kerja antara 16-20 tahun
sebanyak 4 orang atau 9,1%, dan 2 orang atau 4,5% mempunyai masa kerja lebih
dari 21 tahun. Dari uraian diatas sebagian besar karyawan tetap PT. PLN
(Persero) mempunyai masa kerja antara 6-10 tahun.
Gambaran responden yang merupakan karyawan tetap
PT. PLN (Persero) berdasarkan jenis kelamin dapat dilihat bahwa sebagian besar
karyawan adalah berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 30 orang atau 68,2%
dan sisanya sejumlah 14 orang atau 31,8% berjenis kelamin perempuan. Jadi dapat
disimpulkan bahwa karyawan tetap PT. PLN (Persero) lebih banyak berjenis
kelamin laki-laki.
Gambaran responden yang merupakan karyawan tetap PT. PLN (Persero)
berdasarkan status dapat
dilihat bahwa sebagian besar karyawan PT. PLN (Persero) berstatus kawin
yaitu sebanyak 33 orang atau 75% dan sisanya sejumlah 11 orang atau 25% belum kawin. Jadi dapat disimpulkan bahwa karyawan PT. PLN
(Persero) Area Pelayanan dan Jaringan Malang lebih banyak berstatus
kawin.
5.3 Hasil Pengujian Hipotesis
a.
Hipotesis 1
Berdasarkan Tabel 1 diketahui persamaan hipotesis 1 adalah:
X3 = P31X1
+ P32X2 + 0,213
X3 = 0,200 X1 + 0,551 X2 + 0,213
Pengaruh Gaya Kepemimpinan
Orientasi Tugas terhadap Motivasi Kerja
Karyawan pada PT.PLN Persero sebesar 0,200 (20%) dengan nilai
signifikansi 0,032. Hal ini dibuktikan dengan signifikansi t
(0,032) < dari alpha 0,050.
Dengan demikian Motivasi Kerja Karyawan dipengaruhi oleh Gaya Kepemimpinan Orientasi Tugas sebesar 20%.
Pengaruh Gaya Kepemimpinan Orientasi Karyawan terhadap Motivasi Kerja Karyawan pada PT.PLN
Persero sebesar 0,551 (55,1%) dengan nilai signifikansi 0,017. Hal ini dibuktikan dengan signifikansi t (0,017) < dari alpha 0,050. Dengan demikian Motivasi Kerja Karyawan dipengaruhi oleh Gaya Kepemimpinan Orientasi Karyawan sebesar
55,1%.
Tabel 1. Hipotesis 1
|
Coefficientsa
|
||||||
|
Model
|
Unstandardized Coefficients
|
Standardized Coefficients
|
t
|
Sig.
|
||
|
B
|
Std. Error
|
Beta
|
||||
|
1
|
(Constant)
|
25.498
|
3.918
|
|
6.507
|
.000
|
|
GAYA
KEPEMIMPINAN ORIENTASI TUGAS
|
.200
|
.213
|
.234
|
.884
|
.032
|
|
|
GAYA
KEPEMIMPINAN ORIENTASI KARYAWAN
|
.551
|
.222
|
.376
|
2.479
|
.017
|
|
|
a.
Dependent
Variable: MOTIVASI KERJA
|
|
|
|
|
||
b.
Hipotesis 2
Berdasarkan tabel 2 diketahui persamaan hipotesis 2 adalah:
X4 = P31X1
+ P32X2 + 0,398
X4 = 0,380 X1 + 0,658 X2 + 0,398
Pengaruh Gaya Kepemimpinan Orientasi Tugas terhadap
Kinerja Karyawan pada PT.PLN Persero sebesar 0,380 (38%) dengan nilai
signifikansi 0,037. Hal ini dibuktikan dengan signifikansi t
(0,037) < dari alpha 0,050.
Dengan demikian Kinerja
Karyawan dipengaruhi oleh Gaya Kepemimpinan Orientasi Tugas sebesar
38%.
Pengaruh Gaya Kepemimpinan Orientasi Karyawan terhadap Kinerja Karyawan pada PT.PLN Persero
sebesar
0,658 (65,8%) dengan nilai signifikansi 0,000. Hal ini dibuktikan dengan signifikansi t (0,000) < dari alpha 0,050. Dengan demikian Kinerja Karyawan dipengaruhi oleh Gaya Kepemimpinan Orientasi
Karyawan sebesar 65,8%.
Tabel
2. Hipotesis 2
|
Coefficientsa
|
||||||
|
Model
|
Unstandardized
Coefficients
|
Standardized
Coefficients
|
T
|
Sig.
|
||
|
B
|
Std.
Error
|
Beta
|
||||
|
1
|
(Constant)
|
46.047
|
6.873
|
|
6.700
|
.000
|
|
GAYA KEPEMIMPINAN ORIENTASI TUGAS
|
.380
|
.398
|
.256
|
.406
|
.037
|
|
|
GAYA KEPEMIMPINAN ORIENTASI KARYAWAN
|
.658
|
.390
|
.591
|
4.255
|
.000
|
|
|
a.
Dependent
Variable: KINERJA KARYAWAN
|
|
|
|
|
||
c.
Hipotesis 3
Berdasarkan Tabel 3, disimpulkan bahwa pengaruh Motivasi Kerja terhadap Kinerja Karyawan pada PT.PLN Persero sebesar 0,645 (64,5%) dengan nilai
signifikansi 0,011. Hal ini dibuktikan dengan signifikansi t (0,011)
< dari alpha 0,050 sedangkan. Dengan demikian Kinerja Karyawan dipengaruhi
oleh Motivasi Kerja sebesar 64,5% sedangkan sisanya sebesar 35,5% dipengaruhi
oleh variabel lain.
Tabel 3. Hipotesis 3
|
Model Summary
|
|||||||||
|
Model
|
R
|
R Square
|
Adjusted R Square
|
Std. Error of the Estimate
|
Change Statistics
|
||||
|
R Square Change
|
F Change
|
df1
|
df2
|
Sig. F Change
|
|||||
|
1
|
.645a
|
.398
|
.359
|
1.51261
|
.398
|
5.063
|
2
|
41
|
.011
|
|
a. Predictors: (Constant), GAYA KEPEMIMPINAN ORIENTASI KARYAWAN,
GAYA KEPEMIMPINAN ORIENTASI TUGAS
|
|
||||||||
d.
Hipotesis 4
Berdasarkan tabel 4 dijelaskan bahwa, pengaruh
antara Gaya Kepemimpinan Orientasi Tugas dan Gaya Kepemimpinan Orientasi
Karyawan secara bersama-sama terhadap Motivasi Kerja pada PT.PLN Persero sebesar 0,398 (39,8%) dengan nilai
signifikansi 0,011.
Tabel 4. Hipotesis 4
|
Model Summary
|
|||||||||
|
Model
|
R
|
R Square
|
Adjusted R Square
|
Std. Error of the Estimate
|
Change Statistics
|
||||
|
R Square Change
|
F Change
|
df1
|
df2
|
Sig. F Change
|
|||||
|
1
|
.681a
|
.645
|
.125
|
2.95311
|
.645
|
13.151
|
1
|
42
|
.011
|
|
a. Predictors: (Constant), MOTIVASI KERJA
|
|
|
|
|
|
|
|||
e.
Hipotesis 5
Berdasarkan tabel 5, dijelaskan pengaruh
antara Gaya Kepemimpinan Orientasi Tugas dan Gaya Kepemimpinan Orientasi Karyawan
secara bersama-sama Terhadap Kinerja Karyawan pada PT.PLN Persero sebesar 0,327 (32,7%) dengan nilai
signifikansi 0,000.
Tabel 5. Hipotesis 5
|
Model Summary
|
|||||||||
|
Model
|
R
|
R Square
|
Adjusted R Square
|
Std. Error of the Estimate
|
Change Statistics
|
||||
|
R Square Change
|
F Change
|
df1
|
df2
|
Sig. F Change
|
|||||
|
1
|
.572a
|
.327
|
.294
|
2.65297
|
.327
|
9.950
|
2
|
41
|
.000
|
|
a. Predictors: (Constant), GAYA KEPEMIMPINAN ORIENTASI KARYAWAN,
GAYA KEPEMIMPINAN ORIENTASI TUGAS
|
|
||||||||
6.
KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, dapat disimpulkan:
a.
Pada PT. PLN
(Persero), Motivasi Kerja (X3) dapat dipengaruhi secara signifikan oleh
variabel bebas Gaya Kepemimpinan Orientasi Tugas (X1) dan Gaya Kepemimpinan Orientasi Karyawan (X2)
secara simultan sebesar 0,398 (39,8%) dengan nilai signifikansi 0,011. Hal ini dapat diketahui dari nilai signifikasi sebesar 0,011 < alpha 0,05 maka berarti H0 ditolak dan
Ha diterima.
b.
Pada PT. PLN
(Persero), Kinerja Karyawan (X4) dapat dipengaruhi secara signifikan oleh
variabel bebas Gaya Kepemimpinan Orientasi Tugas (X1) dan Gaya Kepemimpinan Orientasi Karyawan (X2)
secara simultan sebesar 0,327 (32,7%) dengan nilai signifikansi 0,000. Hal ini dapat diketahui dari nilai signifikasi sebesar 0,000 < alpha 0,05 maka berarti H0 ditolak dan
Ha diterima.
c.
Pengaruh parsial Gaya Kepemimpinan Orientasi Tugas (X1) terhadap Motivasi
Kerja (X3) pada PT.PLN Persero sebesar 0,200 (20%) dengan nilai
signifikansi 0,032. Hal ini dibuktikan dengan signifikansi t
(0,032) < dari alpha 0,050. Sedangkan pengaruh parsial Gaya Kepemimpinan Orientasi Karyawan (X2) terhadap Motivasi Kerja (X3) Karyawan pada PT.PLN Persero sebesar 0,551 (55,1%) dengan nilai
signifikansi 0,017. Hal ini dibuktikan dengan signifikansi t (0,017)
< dari alpha 0,050.
d.
Pengaruh
parsial Gaya Kepemimpinan Orientasi Tugas (X1) terhadap Kinerja
Karyawan (X4) pada
PT.PLN Persero sebesar 0,380 (38%) dengan nilai signifikansi 0,037. Hal
ini dibuktikan dengan signifikansi t (0,037) < dari alpha 0,050. Sedangkan pengaruh parsial Gaya
Kepemimpinan Orientasi Karyawan (X2) terhadap Kinerja
Karyawan (X4) pada
PT.PLN Persero sebesar 0,658 (65,8%) dengan nilai signifikansi 0,000. Hal
ini dibuktikan dengan signifikansi t (0,000) < dari alpha 0,050.
e.
Pengaruh
Motivasi Kerja (X3)
terhadap Kinerja Karyawan (X4) pada PT.PLN Persero sebesar 0,645 (64,5%) dengan nilai signifikansi 0,011. Hal ini
dibuktikan dengan signifikansi t (0,011) < dari alpha 0,050 sedangkan.
Dengan demikian Kinerja Karyawan (X4) dipengaruhi oleh Motivasi Kerja (X3) sebesar 64,5% sedangkan sisanya sebesar 35,5% dipengaruhi oleh variabel
lain.
f.
Sehubungan
dengan pengaruh Gaya Kepemimpinan Orientasi Tugas dan Gaya Kepemimpinan
Orientasi Karyawan terhadap Motivasi Kerja dan Kinerja Karyawan, maka PT. PLN (Persero) hendaknya dalam melakukan kebijakan terkait
dengan Gaya Kepemimpinan Orientasi Tugas. Hal ini dikarenakan dalam variabel
keusioner hanya terdapat beberapa item saja yang mempunyai pengaruh sangat
besar, sedangkan keseluruhan itemnya masih memiliki rata-rata rendah. Oleh
karena itu, untuk item Gaya Kepemimpinan Orientasi Tugas hendaknya ditingkatkan
lagi sehingga akan menghasilkan kinerja karyawan yang maksimal.
g.
Perusahaan selain menjalin hubungan baik dengan karyawan hendaknya
juga memperhatikan faktor instruksi pekerjaan dan pengawasan dalam pekerjaan
sebagaimana disebutkan dalam indikator kuesioner. Hal ini yang diharapkan untuk
lebih bisa meningkatkan kinerja karyawan serta motivasi kerja karyawan yang baik yaitu melalui beberapa gaya kepemimpinan terutama gaya
kepemimpinan orientasi tugas.
